Senin, 06 Mei 2013

HARDIKNAS, MIMPI PENDIDIKAN (ALA NUSWANTARA) …(1)



DMG-Jakarta. Kata rekan saya yang Polisi, saat tanggal 2 Mei banyak demo lagi … temanya tentang Pendidikan Nasional, iya benar 2 Mei … Hardiknas – Hari Pendidikan Nasional. Peringatan didirikannya Sekolah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara … hmmm.
Yang demo adalah para pelajar – mahasiswa, guru dan masyarakat (LSM) yang intinya tidak puas denga SISTEM PENDIDIKAN saat ini, yang menurut spanduk yang sepintas saya baca … banyak PENYELEWENGAN, pendidikan MAHAL … tolak Ujian Nasional dll, Revolusi Pendidikan karena sudah menjadi SISTEM PENDIDIKAN KAPITALIS (wah !)

Pendidikan merupakan hal esensi yang tidak boleh salah bagi masa depan bangsa … karena anak-anak bangsa akan mengalami pendidikan, dari pendidikan dasar – menengah dan tinggi. Jika salah didik … apa yang akan terjadi … Bangsa Nusantara akan HANCUR !!! karena diurus oleh anak bangsa yang tidak (kurang) qualified karena salah urus pendidikannya, dari sisi INTELEKTUAL dan BUDI PEKERTI/MORALITAS … dari sisi IQ, EQ … dan sekarang ada lagi SQ
Bicara pendidikan masih kental ingatan kita tentang pro-kontra Ujian Nasional, yang konon karena keterlambatan yang terjadi berubah menjadi Ujian setengah Nasional, karena yangs eharusnya dilaksanakan serempak, kemudian menjadi tidak berbarengan karena terlambat cetak dan distribusi … wow !
Kalau salah menyalahkan, para ahli dan komentator sangat pintar … kalau tangkis menangkis, politisi dan pejabat paling pintar membuat alasan …
Kita rakyat kecil hanya bertanya INIKAH WAJAH PENDIDIKAN NASIONAL KITA ???
Bisa jadi … para ahli dan komentator serta pejabat – politisi yang sama-sama pintar menyalahkan dan berkelit adalah produk pendidikan juga … yang sudah tidak lagi menyeimbangkan antara IQ – EQ – SQ.
 Atau sebetulnya saya pribadi lebih suka istilah … KESEIMBANGAN CIPTA – RASA – KARSA (dalam diri) … untuk kemudian mencipatkan HUBUNGAN HARMONIS : VERTIKAL (dengan Pencipta) dan HORISONTAL (dengan sesama).

Pendidikan sekarang … yang katanya berantakan, karena yang dilakukan adalah ala Barat – Timur jauh … atau mungkin Utara – Selatan. Dengan berbagai alasan, antara agar kita … anak-anak kita bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain, ilmu pengetahuannnya tidak kalah dll yang nyatanya … memang memintarkan … namun kurang cerdas nuraninya …
Buktinya ? masih jadi pelajar isinya nyontek, kesurupan dan tawuran, bahkan melakukan kekerasan dan tindakan pidana lain … bahkan percabulan dan prostitusi (ngeriiiiii !!!!), meskipun masih ada juga yang baik, namun ketika nilai kuantitatifnya lebih besar yang jelek … maka ada yang keliru dengan pendidikan nasional …
Lalu, ketika sudah besar … jadi pegawai dan pejabat atau pengusaha serta politisi atau apa saja profesi manusia dewasa … ya, berkembang lebih parah … (malas nyebutnya), namun yang sekarang banyak dibahas orang … berkemampuan dan mahir KORUPSI, nah … sama, ketika yang baik-baik justru jadi minoritas … PASTI ADA YANG SALAH dengan SISTEM PENDIDIKAN kita.

Mengapa tidak kita rumuskan pendidikan ala NUSWANTARA ya ?
Seperti apa ? Entah (mari kita kaji bersama-sama) … yang jelas, ketika kita mencotoh gaya dan style pendidikan ala bangsa A .. B dan C … ternyata SALAH dan KELIRU hasilnya, maka … kembalilah pada JATI DIRI MU !
(jadi ingat lagunya GOD BLESS “Apa Kabar” … apa kabarmu kawan, cukup sudah mengembara … sudah saatnya PULANG KE RUMAH …..)
Ya, mari kita PULANG ke RUMAH BESAR kita NUSWANTARA !!!
Gali lagi cara-cara pendidikan AJARAN ADILUHUNG BANGSA NUSWANTARA … !

Ilmu pengetahuan dan teknologi masalah gampang … IQ dan intelektual sangat mudah digapai oleh anak-anak di masa dan alam kemerdekaan … yang penting adalah EQ dan SQ … MENTAL KEPRIBADIAN … karena inilah yang akan MENGENDALIKAN dan MELURUSKAN arah bagaimana kepintaran ilmu pengetahun dan teknologi DIDAYAGUNAKAN … untuk MEMATIKAN dan MENGHANCURKAN kehidupan … atau MENUMBUHKAN dan semakin MENCIPTAKAN HARMONISASI KEHIDUPAN … (?)

JATI DIRI bangsa kita … ya ajaran PANCASILA … yang telah disesap dan disarikan dari berbagai kearifan lokal yang ada di bumi pertiwi … jutaan ajaran leluhur yang ADILUHUNG …
Mari kita pulang ke RUMAH BESAR kita … NUSWANTARA … rumah yang penuh dengan energi ajaran tentang hidup secara pribadi – hidup bertetangga – berbangsa dan bernegara … semua sudah ada di RUMAH KITA, tempat sistem pendidikan yang paling baik dan cocok untuk bangsa kita ...

Ya, mari kita PULANG ke RUMAH BESAR kita NUSWANTARA !!!

Selamat HARDIKNAS ! (maaf … sengaja, terlambat) (eko2013)

Selasa, 30 April 2013

HARI BURUH, REFLEKSI & PENYADARAN SELURUH ELEMEN BANGSA … ! (BUKAN AKSI ANARKI, BUKAN MANFAAT & TERMANFAATKAN)



Selamat HARI BURUH …

Kepada seluruh KAWAN-KAWAN BURUH, PEKERJA, KARYAWAN dan SEMUA saja yang masih BEKERJA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN SEHARI-HARI … (termasuk saya) !

Selamat HARI BURUH …

DMG-Jakarta. Hari ini May Day kembali diperingati, semangat bergelora untuk menyerukan perjuangan nasib kelompok pekerja. Berbagai media meliput persiapan aksi, bahkan ada yang cenderung menakuti bahwa peringatan May Day akan seram …
Sudah seminggu ini, HP dan telepon kantor berdering … temanya sama, menanyakan bagaimana peringatan May Day tahun ini. Kantor kami hanya kantor pemberitaan kecil yang punya beberapa kolega dan partner … sudah cukup sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan seputar May Day, hmm … apa lagi para pengemban dan pengampu kepentingan ya? Pasti super sibuk …
Sebut saja aparat kemanan TNI dan Polri, pasti sibuk … untuk menjaga serta memelihara agar SITUASI MAYDAY, AYEM TENTREM … semua lancar, tertib dan tanpa anarkisme ...

Lalu juga, para pejabat Negara yang mengurus perburuhan pasti (juga harus) sibuk … dari BADAN, LEMBAGA, DINAS dan DEPARTEMEN yang berkaitan dengan permasalahan Buruh … juga harus ikut sibuk.
Semangat sibuk-sibuknya … seharusnya bukan “takut dan cemas” karena akan kedatangan tamu yang mau menanyakan HAK-HAK PEKERJA, NAMUN seharusnya SIBUK dengan SEMANGAT MELAYANI kedatangan MITRA mereka, untuk DIALOG dan MENDISKUSIKAN serta MENYELESAIKAN permasalahan perburuhan.
Ya, BURUH – KARYAWAN – PEKERJA dan BADAN/LEMBAGA atau DEPARTEMEN, serta PARA PENGUSAHA adalah MITRA. Mitra untuk bersama-sama mewujudkan KESEJAHTERAAN Bangsa dan Negara … KEJAYAAN NUSANTARA,
karena BURUH – KARYAWAN – PEKERJA adalah elemen penting RAKYAT yang berhak untuk disejahterakan, namun juga mempunyai KEWAJIBAN untuk bersama-sama mensejahterakan Bangsa … bukan sebagai objek saja … namun, dengan posisi dan perannya harus juga sebagai SUBJEK pelaksana yang berperan AKTIF untuk MEMBANGUN NEGERI ini …
Jadi … MONGGO, SILAKAN … aparat kemananan, pengusaha dan lembaga pengampu kepentingan perburuhan sambut kawan-kawan buruh dengan SENYUM  INDAH dan uluran JABAT TANGAN KEHANGATAN sebagai … MITRA dan SAHABAT sebagai sesama ANAK BANGSA, dengan semangat menjaga KETENTRAMAN dengan KESADARAN dan PENYADARAN NURANI … untuk MAU dan MENGHORMATI perbedaan pendapat, untuk BERSAMA-SAMA mencari SOLUSI terbaik untuk kepentingan yang LEBIH BESAR … yaitu BANGSA dan NEGERI kita …

Tahun 2013, tahun politik … (mungkin) akan banyak sekali kepentingan politik sesaat untuk KEPENTINGAN PARTAI dan CALEG yang ikut NEBENG pada aksi May Day …
yakin kawan-kawan BURUH – KARYAWAN – PEKERJA … MENYADARI hal ini,
JANGAN MAU … DIMANFAATKAN atau TERMANFAATKAN, ingat … kawan-kawan juga SUBJEK yang mempunyai HAK KONSTITUSIONAL sebagai RAKYAT untuk membangun menuju KEJAYAAN NUSANTARA, bukan SEKEDAR ALAT POLITIK mereka !

Kita rakyat kecil, namun BERJIWA BESAR dengan KESADARAN POLITIK dan NURANI, untuk menjaga keseimbangan HAK dan KEWAJIBAN sebagai elemen BANGSA …

May Day tahun ini … akan menjadi momentum untuk MEMBANGUN KESADARAN dan REKONSILIASI hubungan KEMITRAAN HARMONIS antara BURUH – KARYAWAN – PEKERJA dan BADAN/LEMBAGA atau DEPARTEMEN, serta PARA PENGUSAHA …

Mari kawan-kawan BURUH – KARYAWAN – PEKERJA kita rayakan HARI BURUH SEDUNIA dengan semangat MEMBANGUN BANGSA untuk KEJAYAAN NUSANTARA !!!
(eko2013)

Minggu, 24 Februari 2013

HIRUK PIKUK POLITIK, MPE & MAIN CATUR ... merasa benar atau korban-mengorbankan (?)

DMG-Jakarta. Benar, ternyata memang kembali harus mengakui kebenaran kata para pengamat (politik), bahwa tahun 2013 adalah Tahun Politik. Bagaimana tidak ? Hiruk pikuknya memang sangat terasa, berbagai situasi dalam segala bidang, hampir pasti (atau dipasti-pastikan) berhubungan dan bermuara dengan kepentingan politik, benarkah ?
Kasus impor daging sapi, jadi prahara bagi PKS. Bagaimana pucuk pimpinan akhirnya ditahan KPK ... di tengah sibuk-sibuknya PKS mengikuti tahapan Pileg Pemilu 2014. PKS bereaksi dengan mengadakan gerakan tobat nasional, hal yang positif dan patut ditiru ... apa lagi jika pertobatan itu BENAR MUNCUL dari KESADARAN dan PENYADARAN NURANI (tentunya harus diwujudkan dengan perubahan sikap dan perilaku). Apakah akan menyeret pejabat lain ?
Sebelumnya, prahara Hambalang ... memporakporandakan pengurus DPP Demokrat. Beberapa telah dijadikan tersangka. Terakhir muncul bermacam spekulasi di tubuh Demokrat berkaitan dengan penetapan status tersangka oleh KPK terhadap Ketua Umumnya yang brujung pada pengunduran diri AU, yang ternyata belum juga berujung ... masih terjadi hiruk pikuk.
Lebih ke belakang lagi, banyak politisi dan pejabat menjadi tersangka dan ditahan KPK, seperti bergiliran ... bahkan, ada yang menyebut-nyebut penentuan sebagai tersangka dan penahanan oleh KPK seperti "arisan" menunggu giliran (karena terlalu banyak yang terlibat korupsi) ... siapa lagi ? sangat ironi ! (mungkinkah wajah Bangsa ini memang seperti ini ? sampai kapan ?)

MPE (Manajemen Pertahanan Ego), muncul ketika seseorang terdesak atau dipojokkan, bisa merupakan hal yang benar (karena penyadaran) atau alasan-alasan (pembenar) lain ... seorang pribadi yang terdesak, akan menyampaikan bahwa ia tidak bersalah, atau melakukan karena terdesak oleh suatu kekuatan yang tak mampu ia bendung ... lalu, menyeret dan mengaitkan dengan orang dan pihak lain, bahkan menyalahkan orang lain, mungkin BENAR, namun bisa jadi FITNAH.
Sebut saja beberapa sumpah dan janji ... dari yang agamis sampai yang spektakuler serta bombastis ...
Kebenarannya ? No bodies know ... just waiting THE TIME, karena Sang Waktulah yang akan mengungkap semuanya....

Main CATUR ? Apakah analogi dunia politik memang seperti main catur ? untuk menyelamatkan PERWIRA, maka PRAJURIT maju satu langkah agar dimakan musuh, namun kemudian mendapatkan korban yang lebih besar atau paling tidak bisa menempatkan posisi permainan sehingga menjadi lebih berpeluang menang. Mungkin strategi yang lebih dahsyat lagi, mengorbankan para PERWIRA dan MENTERI untuk menyelematkan RAJA dan RATU ... entahlah !
Namun, mungkin bagi yang menjadi korban atau dikorbankan serta mengorbakan, akan merasa seperti itu (lepas dari sekedar alasan MPE tentunya).

Pertanyaan untuk para POLITISI, PEJABAT dan PENEGAK HUKUM .... 
Apakah ada dunia politik tanpa MPE dan main CATUR ya (yang buruk yang tidak dilandasi ETIKA) ?
Apakah memang harus ada ? Namun, apakah sekejam itu ?
Bagi yang melakonan laku MPE dan CATUR ... apakah tidak terbersit NURANI, yang JUJUR, yang keluar dari BUDI baik ? sehingga MPE negatif hanya sebentar muncul, sehingga tidak menimbulkan KORBAN dan DIKORBANKAN ... namun muncul sebuah KEJUJURAN dan SIKAP KSATRIA?
Atau juga, permaninan CATUR yang asyik, tanpa MAKAN-MEMAKAN ? semua dilandasi ETIKA ... paling tidak berupa peringatan ... kalau melakukan ancaman SKAK atau SKAK MAT ?

(Mari merenung ... di tengah hiruk pikuk ... ada kepentingan yang seharusnya LEBIH BESAR yang harus kita BELA, mati-matian ... yaitu MENEGAKKAN NEGARA NUSWANTARA dan MENEMPA NURANI untuk MENEMUKAN KESEJATIAN yang HAKIKI dan ILAHI) - Eko2013

Rabu, 16 Januari 2013

HARAPAN PEMILU 2014 (Setelah Hanya 10 Parpol yang Lolos) (1)

DMG-Jakarta. Senin lalu (07/01/2013) di Kantor KPU Pusat di kawasan Jl. Imam Bonjol Menteng Jakarta Pusat, suasana KPU diramaikan dengan dua kegiatan di dalam kantor KPU dan di halaman luar KPU. Di dalam berlangsung Rapat Pleno Terbuka Verifikasi Faktual Tingkat Nasional, yang diikuti oleh anggota Bawaslu, anggota KPU Propinsi dan para perwakilan 34 Parpol, media massa dan pengamat Pemilu 2014. Sementara itu, di halaman luar KPU Pusat berlangsung unjuk rasa dari massa pendukung Parpol yang "merasa" tidak akan lolos pada verifikasi faktual, karena berbagai permasalahan di wilayah, termasuk tuduhan ketidakberesan pada pelaksanaan verifikasi faktual.
Kesadaran suatu partai tidak lolos verifikasi faktual memang sudah bisa dipetakan dan dilihat oleh masing-masing Parpol, karena sesungguhnya aturan main dan persyaratan lolos diketahui dengan jelas, antara lain harus 100% lolos verifikasi faktual kepengurusan pada 33 propinsi atau tingkat DPD. Meskipun, nyatanya kesadaran itu juga disertai kesadaran "kritis dan protes" memepertanyakan bagaimana proses verifikasi faktual di daerah-daerah, sehingga begitu sulitnya Parpol untuk berjuang menjadi lolos. Kemudian, masih juga menyisakan pertanyaan-pertanyaan 30 persen keterwakilan pengurus perempuan ... yang konon tinggal menunggu gugatan MK-nya saja.
Setelah Senin (14/01/2013) dilaksanakan pengundian nomor Parpol, maka denyut sosialisasi dan kampanye-pun mulai berdetak, kencang dan akan lebih kencang lagi ... menuju 2014 nanti. Meskipun (lagi-lagi) tetap menyisakan protes ... oleh Parpol yang tidak lolos, karena ketika ada putusan PTUN dan MK yang membuat Parpol-parpol yang tidak lolos menjadi lolos ikut Pemilu 2014 ? maka ... harus mempunyai nomor besar ... (sudah tidak cantik lagi nomornya).
Sebagai masyarakat yang besok ikut melilih (semoga saya tercantum dalam DPT), memudahkan untuk memilih, meskipun tetep ribet ... karena langsung milih caleg-nya langsung, tapi paling tidak tidak terlalu ribet-lah. Seingat saya, dengan kondisi 38 Parpol dan 6 Partai Lokal Aceh, satu TPS waktu itu terdiri dari sekitar 150-200 pemilih saja, karena kotak suaranya tidak muat jika untuk 300-400 pemilih. (Saya harus ingatkan ke temen saya yang Polisi, agar ada simulasi ... muat berapa kotak dengan format 10 Parpol). Ini akan berkaitan dengan berapa jumlah TPS di suatu wilayah.

Apa harapan untuk Pemilu 2014 ?
Rasanya kita harus tercenung sejenak, untuk merenungkan hakikat Demokrasi ... yaitu untuk kesejahteraan rakyat ! yang mungkin harus sama-sama kita sadari, seberapa pun persentasenya, sebagaian besar kita akan bilang kita BELUM SEJAHTERA ... yang artinya, cita-cita DEMOKRASI belum bisa terwujud.
Jadi ? Ya, berharap agar Pemilu 2014 berhasil dengan baik, menciptakan LEGISLATIF dan EKSEKUTIF yang legitimate, disamping juga Pemilunya AMAN dan TERTIB.

Tentu saja, jalan panjang masih harus ditempuh ... elemen-elemen Pemilu harus terkelola dengan baik, sehingga semuanya ... Perundang-undangan termasuk peraturan-peraturan berkualitas, KPU dan Bawaslu, serta DKPP ... OK, Peserta Pemilu (Parpol dan Paslon Capres/Cawapres) melaksanakan fair play tidak perlu pakai black campaign, apa lagi SARA serta kampanye dan program yang tidak patut untuk berkompetisi, juga ... SEMUA SIAP KALAH dan SIAP TIDAK TERPILIH... (yang ini sepertinya jadi pekerjaan keras dan berat untuk proses penyadarannya).


Rakyat, masyarakat pemilih ... sepatutnya dijadikan "RAJA" yang harus dilayani, karena memang Masyarakat Pemilih-lah yang memiliki kedaulatan - sumber kekuasaan, yang kemudian ditransformasikan dalam "amanah" kekuasaan legislatif dan eksekutif. Selenggarakan pesta untuk "RAJA" dengan DPT riil yang akurat dan tepat, jangan pernah terlewat hak konstitusi setiap Warga Negara, mereka adalah "RAJA", layani dengan penyelenggaraan Pemilu yang jujur dan adil ... jauhkan dari muslihat ...
JANGAN CURANGI KAMI !!!
(Karena kedaulatan rakyat adalah "RAJA" yang sejati, maka jika dicurangi akan "MURKA")

Ketika para anggota DPR, DPRD, DPD dan Presiden sudah terpilih, mereka benar-benar AMANAH menjalankan tugasnya ... terus berpegang teguh pada PANCASILA dan UUD'45 (meskipun banyak aktivis yang saya kenal mempertanyakan, karena konon ... jiwa dan nilai-nilai PANCASILA menjadi abu-abu dalam UUD'45 Amandemen). Nilai-nilai luhur PANCASILA luruh dan menyatu dengan DARAH para anggota DPR, DPRD, DPD dan Presiden terpilih, sehingga setiap gerak, langkah dan ucapan hanya untuk Nuswantara Indonesia !!!
Amin ... (Eko2013).

Kamis, 20 Desember 2012

Keluhan Bung "KECIK", Ada Apa dengan Nasionalisme Kita ? (wawancara tidak resmi dengan seorang Kepala Desa dari Langsa - DI.Aceh)

DMG-Jakarta. Minggu lalu, masyarakat Jakarta dikejutkan dengan aksi para Perangkat Desa di Gedung DPR RI dengan menutup jalan tol dan menjebol pagar Gedung DPR, setelah sekian lama (mungkin  terakhir jebol pada tahun 1998) pagar utama DPR jebol dan belasan ribu massa Perangkat Desa merangksak masuk sampai halaman dalam Gedung DPR. Ada apa dengan perubahan sikap para Perangkat Desa ?
Semua terkejut, apa yang tidak biasa ? karena sebetulnya, aksi Perangkat Desa Nusantara sudah terjadi beberapa kali, namun baru kali itu menutup jalan tol dan menjebol pagar DPR.

Perubahan sikap mungkin terjadi, karena sekarang ini ... tampak bukan hanya satu elemen yang melakukan aksi, setidaknya ada 3 elemen ... yaitu PPDI (Persatuan Perangkat Desa Indonesia), Parade Nusantara dan GRIB (Gerakan Rakyat Indonesia Baru). (Elemen yang terakhir adalah massa pendukung salah satu tokoh karismatik Gerindra - Prabowo Subiyanto, yang dalam berbagai survey diunggulkan menjadi Capres 2014).
DMG tidak ingin mengulas tentang bagaimana unjuk rasa itu berjalan dan berakhir dengan chaos dan Perangkat Desa didorong mundur dengan gas air mata petugas, itu hal yang biasa.
Hal yang luar biasa adalah, bagiamana ucapan dan gumanan seorang Kecik (sebutan Kepala Desa di Aceh), memandang nanar situasi unjuk rasa dan lalu lalang wakil rakyat serta orang-orang di dalam Gedung DPR.

"Jangankan Aceh, ternyata di Indonesia pun belum sejahtera, karena ternyata pemerintah pun belum bisa memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyatnya, yang paling gampang air bersih ... belum sampai 20 persen rakyat Indonesia mendapatkan jaminan air bersih, apa lagi yang lain ...". "Saya ke sini bukan untuk meminta menjadi PNS seperti mereka, saya ingin meminta air bersih untuk rakyat saya ... rakyat Aceh".
Benarkah ? Apakah ini pembicaraan nglantur atau berdasarkan fakta ? Namun, secara serampangan saja itu ada benarnya ...

"Polisi-polisi itu, dengan gagahnya menghadang dan mengusir para Perangkat Desa yang menuntut tanggung jawab pemerintah atas jasa selama ini menjaga wilayah di Indonesia". "Kami adalah penjaga wilayah NKRI pada garis terdepan. Entah apa jadinya kalau nasionalisme kami luntur ... karena faktanya, kami tidak mendapatkan apa-apa dari pemerintah". "Saya berani bertaruh, bahwa nasionalisme kami lebih tinggi dari Bapak-Bapak Polisi itu ... mereka tidak pernah merasakan bagaimana menjaga agar Bendera Merah Putih di halaman kantor desa, tetap berkibar ... saya menjaga Sang Merah Putih dengan badan saya sendiri, bertahan ... jangan sampai berkibar bendera GAM".
Ah, miris hati saya menedengarnya ... saya harus mengangguk dalam hati ... iya, benar.

Banyak lagi guman dan gurauan yang samar-samar terdengar, saling bersahut dengan gelegar petir dan desau hujan lebat sore itu. Intinya sindiran kritis dan kritik pedas dari seorang Kecik ... semoga ini bukan pertanda mulai lunturnya nasionalisme, namun sentilan-sentilan untuk membangkitkan semangat nasionalisme yang memang harus diakui terus memudar.
Masalah Perangkat Desa harus dipandang serius, semoga ... Wakil Rakyat bisa memandang dan menyelesaikan dengan baik masalah ini ... bukan sebagai bargaining politik untuk meng-goal-kan atau tidak RUU Desa ... namun lebih pada kepentingan nasional yang lebih besar ... yaitu KESEJAHTERAAN dan NASIONALISME !!! (Eko2012)

Selasa, 11 Desember 2012

MARAK DAN HIRUK PIKUK PEMILUKADA ... Apakah (semoga dan harus) masyarakat semakin dewasa !

DMG-Jabodetabek. Belum lepas ingatan kita Pemilukada DKI berlalu, meskipun sempat terjadi hiruk pikuk black campaign dengan mengangkat isue SARA dan saling serang antar pasangan calon, namun Pemilukada DKI selesai dengan sukses, bahkan tercatat sebagai Pemilukada yang teraman serta selesai dengan mulus, tanpa gugatan ke MK.
Sebelumnya Pemilukada Depok, Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang rata-rata di wilayah Jabodetabek belangsung dengan aman, meskipun juga terjadi hiruk pikuk dan diwarnai dengan gugatan ke MK. Ke depan, Pemilukada Kota Bekasi tinggal menghitung hari (rencana pemungutan suara pada hari Minggu 16/12/2012) dan tidak lama lagi diikuti Pemilukada Kota Tangerang dan Pemilukada Jawa Barat, karena Depok dan Bekasi masuk wilayah Jawa Barat. Tentu saja denyutnya sampai di wilayah Jabodetabek, karena pergerakan manusia Jabodetabek ke sana - ke mari di lingkup wilayah Jabodetabek, yang tinggal di wilayah luar Jakarta bekerja di Jakarta dan banyak juga, yang tinggal di Jakarta bekerja di Tangerang, Depok atau Bekasi.
Ya, Pemilukada seperti jadi kegiatan "rutin" yang silih berganti terus menerus terkadang menjadi sebuah fenomena hiruk-pikuk ... di wilayah Jabodetabek saja sudah sangat terasa "rutinitas"-nya apalagi bila kaca matanya diperluas menjadi seluruh wilayah Indonesia, yang terdiri dari 33 provinsi, 398 kabupaten, 93 kotamadya, 1 kabupaten administrasi dan 5 kota administrasi ... sehingga total ada 500-an Pemilukada dalam jangka 5 tahun, tiap hari sepanjang 5 tahun ada sekitar 0,29 kali kegiatan Pemilukada, belum nanti ditambah Pemilu Legislatif (yang pasti banyak sekali partai peserta pemilunya) dan terakhir Pemilu Presiden.
Bagaimana kalao dihitung biaya ? Biaya untuk penyelengaraan Pemilukada yang pasti membebani APBD ... belum lagi biaya "hiruk pikuk" Pemilukada yang harus dikeluarkan oleh Pasangan Calon dan Teamses untuk kampanye dan lain-lain (?) ... berapa ribu atau juta "T" ya ? Apakah mubazir ? (mari kita renungkan) Belum lagi biaya dan ongkos lain-lain dalam rangka gugatan ke MK (paling tidak untuk wira-wiri dari daerah ke Jakarta) ... berapa ya ?
Sedemikian besarnya ongkos politik yang harus dikeluarkan, apakah sebanding dengan kedewasaan politik yang kita capai ? atau malah akan mencapai titik kulminasi jenuh sehingga memicu apatisme masyarakat terhadap Pemilu dan Pemilukada ?
Apakah tidak lebih baik jika ongkos politik yang sangat besar itu, dialokasikan untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat, sehingga konsep wellfare state benar-benar terwujud di Nuswantara tercinta ini ya ? Kita tunggu apakah permenungan ini sampai terdengar di Gedung DPR dan Istana (he he he). Mungkin ada pemikiran yang lebih efektif dan efisien ... sehingga semua berkontribusi positif pada KEDEWASAAN POLITIK seluruh elemen Nuswantara.

Ini jawaban saya kepada rekan saya yang polisi, yang bercerita bahwa baru saja selesai ikut pengamanan Pemilukada Kabupaten Tangerang, terus sekarang siap-siap untuk pengamanan Pemilukada Kota Bekasi.

Apa pun itu, selamat melaksanakan pesta demokrasi (lagi) untuk warga Kota Bekasi. Ada 5 Pasangan Calon yang bertarung besok Minggu ... semoga biaya Pemilukada yang memang sangat besar ini, dimbangi dengan hasil KEDEWASAAN POLITIK seluruh masyarakat, termasuk di Kota Bekasi. 
PENYELENGGARA dan PENGAWAS Pemilukada semakin matang, netral, profesional dan dewasa untuk menata dan mengawasi jalannya seluruh tahapan Pemilukada, hingga akhir tahapan nanti.
Seluruh PASANGAN CALON dan TEAMSES serta seluruh PENDUKUNG semakin dewasa dan berpikir luas untuk Bangsa Nuswantara ... Indonesia, bukan KELOMPOK atau GOLONGANNYA saja, sehingga dengan kesadaran penuh ... mau menerima kekalahan dan kemudian bersama-sama membangun bangsa.
Seluruh warga Kota Bekasi, mari kita tunjukkan kedewasaan berpikir, bertindak dan berperilaku sebagai cerminan bahwa kita adalah warga Nuswantara yang besar ... beradab, berkepribadian luhur dan yang ber-Pancasila. Siapa pun Pasangan calon yang terpilih ... akan menjadi Pemimpin Kota Bekasi, tinggal kita tagih janji-janji kampanye-nya !

Semoga Pemilukada Kota Bekasi, seperti juga Pemilukada Kabupaten Tangerang, berlangsung dengan aman dan damai ... serta proses Pemilukada benar-benar menghasilkan PEMIMPIN yang AMANAH .. amin. (Eko2012) 

Kamis, 06 Desember 2012

HAMBALANG TERUS TERKUAK, SIAPA LAGI YANG BAKAL JADI TSK ?

DMG-Jakarta. Hari ini semua media heboh, apa lagi kalau bukan ditetapkannya AM sebagai tersangka baru kasus Hambalang, yang selama ini dianggap terselimuti kabut misteri. AM yang menjabat sebagai Menegpora dan pengurus partai yang saat ini berkuasa, menyatakan mengundurkan diri siang ini (Jumat 07/12/2012). Pernyataan mundur secara resmi tersebut ditanggapi oleh Presiden SBY yang melalui konperensi pers menegaskan pernyataan mundur AM, selanjutnya menunjuk sementara Menko Kesra sebagai pejabat Menegpora sampai dengan penunjukkan atau penggantian AM dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II).
Hal positif yang bisa dilihat adalah, sikap ksatria AM yang menyatakan mundur ... patut dicontoh (bukan dicontoh kasus korupsinya) oleh pejabat-pejabat lain yang tersangkut kasus pidana, ya ... sikap sportif dan ksatria, serta tidak mau mengganggu sistem kenegaraan. Kita tunggu hasil penyidikannya, kita tunggu apakah KPK juga akan menahan AM ? Waktu yang akan berbicara.
Di saat keraguan terhadap KPK karena dianggap lamban dan ragu-ragu, serta lebih cenderung bergaya LSM (setidaknya demikian tundingan beberapa pihak), KPK membuat kejutan dengan "berani" menetapkan AM yang berada dekat dengan lingkar penguasa sebagai TSK kasus Hambalang. Mudah-mudahan ini benar-benar harapan baru untuk KPK, di tengah terpaan isue pelemahan KPK dan konflik KPK dengan penegak hukum yang lain, KPK membuat langkah yang bisa diacungi jempol. 
Kira-kira bangaimana kelanjutannya ? Akankah dengan dinyatakannya AM sebagai TSK akan menyeret sejumlah nama yang lain ? seperti yang disampaikan awal mula kasus terungkap melalui Nazarudin, lalu menyeret Angie dan sekarang AM. AM akan menyeret siapa ? (Eko2012)